JADWAL PUASA DAN IMSAKIYAH RAMADHAN 1434 H 2013

Ikhlas Dan Urgensinya




اسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 



Selamat pagi untuk semua saudaraku. Selamat menjalankan rutinitas masing-masing. Semoga Allah selalu membukakan pintu rezeki kita pagi ini.



Kali ini saya akan membahas tentang suatu amalan hati yang sulit untuk diraih tanpa usaha semaksimal mungkin dan pertolongan dari Allah.


Ikhlas Dan
Urgensinya



“Katakanlah:
Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah)”. (QS Al-An’aam ayat 162)


Ikhlas
merupakan salah datu dari berbagai amalan hati, dan bahkan ikhlas berada di
barisan pemula dari amal-amal hati. Sebab, diterimanya berbagai amal tidak bisa
menjadi sempurna kecuali dengannya. Maksud ikhlas disini adalah menghendaki
keridhoan Allah dengan sesuatu amal, membersihkan dari segala noda individual
maupun duniawi dan tidak ada yang melatar belakangi suatu amal kecuali karena
Allah dan demi Akhirat, tidak ada noda yang mencampuri amal, seperti kecenderungan
kepada dunia untuk diri sendiri yang tampak maupun yang tersembunyi karena
menghendaki harta benda, syahwat kedudukan dan ketenaran agar mendapat tempat
di hati orang banyak, mencari sanjungan mereka, atau karena alasan lain yang
terselubung yang intinya menghendaki selain Allah dengan suatu amal, siapapun
dan apapun.





          Landasan amal yang ikhlas adalah
memurnikan niat karena Allah Subhaanahu Wa Ta’ala semata bukan keluar ataupun
diluar dari apa-apa yang dikehendaki Allah SWT. Maksud niat disini adalah
mendorong kehendak manusia untuk mewujudkan suatu tujuan yang dituntutnya yang
disertai dengan faktor-faktor pendorong seperti yang bersifat materiil,
spiritual, individual atau sosial, juga ada yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.
Namun faktor-faktor tersebut haruslah mampu dibatasi pada aqidah manusia dan
nilai yang diyakininya, karena orang mu’min yang lurus adalah jika pendorong
agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsunya, porsi akhirat
harus dilebihkan dan mampu mengalahkan porsi duniawinya, mementingkan apa yang
ada di sisi Allah dari pada apa yang ada di sisi manusia, menjadikan niat,
perkataan dan amalnya bagi Allah, menjadikan sholat, ibadah, hidup dan matinya
semata-mata bagi Allah Rabb semesta alam.





          Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam kehidupan ini karena pada dasarnya urgensi ikhlas tidak
lepas dari diterima atau tidaknya segala amal ibadah kita karena IKHLAS adalah
buah tauhid yang murni. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Fatihah
ayat yang ke 4: “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah
kami memohon pertolongan”. Itu pula yang diucapkan seorang muslim dalam munajat
sholatnya setiap hari tidak kurang dari 17 kali karena dengan ikhlas ini orang
mu’min benar-benar menjadi hamba Allah bukan hamba hawa nafsunya (hamba selain
Allah), bukan hamba dunia dan yang selainnya.





          Dengan ikhlas yang murni ini, dia bisa
membebaskan diri dari segala bentuk perbudakan, melepaskan diri dari segala
penyembahan selain Allah SWT, seperti menyembah kepada harta, wanita,
perhiasan, penampilan, kedudukan, tahta/jabatan yang tidak sedikit manusia
dibuat tunduk olehnya.





          Para robbani dan orang-orang yang
aktif dalam pendidikan rohani telah menyepakati urgensi ikhlas bagi tiap amal
untuk kepentingan akhirat dan bagi tiap orang yang meniti jalan Allah ini.
Al-Iman Abu Hamid berkata dalam mukadimah kitab An-niyyah wal ikhlas Qaah
Shidiq yang memakan seperempat bagian dari buku Al-Ihya.





“Dengan
hujjah iman yang nyata dan cahaya Al-Quran, orang-orang yang mempunyai hati
mengetahui bahwa kebahagiaan tak bakal tercapai kecuali dengan ilmu ibadah.
Semua orang akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang berilmu
pasti akan binasa, kecuali orang-orang yang aktif beramal. Semua orang yang
aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas”.


          Jadi sebutan orang yang ikhlas amatlah
rentan. Amal tanpa niat adalah ketololan, niat tanpa ikhlas adalah riya, yang
berarti sama dengan kemunafikan dan tidak beda dengan kedurhakaan. Ikhlas tanpa
kejujuran dan aplikasi adalah sia-sia. Allah telah berfirman tentang setiap
amal yang dimaksudkan selain Allah, sebagai sesuatu yang tak berarti: “Dan kami
hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan)
debu yang berterbangan” (QS Al-Furqon ayat 23)





          Yang serupa dengan apa yang dikatakan
Imam Al-Ghozali itu sebelumnya juga telah dikatakan seorang robbani yang arif,
Sahl bin Abdullah T-Tustary, semua manusia seperti orang-orang yang berilmu.
Semua orang yang berilmu adalah orang yang bingung kecuali orang-orang yang
mengamalkan ilmunya.





Sebagian
yang lain berkata, ilmu itu seperti benih, amal seperti tanaman dan airnya
adalah ikhlas. Ibnu Atha’illah berkata dalam hikam-nya, “Sesungguhnya Allah
tidak menyukai amal yang mendua, tidak pula hati yang mendua, sebab amal yang
mendua tidak diterima dan hati yang mendua juga tidak diterima”. Amal yang
tidak disertai ikhlas adalah gambaran mati, raga tanpa jiwa, Allah hanya
menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Maka dari itu Allah SWT.
menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalnya. Sebagaimana hadits
Abu Hurairoh dari Nabi Muhammad SAW disebutkan: “Sesungguhnya Allah tidak
melihat kepada jasad dan rupa-rupa kalian, tetapi dia melihat kepada hati-hati
kalian.” Beliau memberi isyarat kepada hati dengan jari-jari tangan, dan
berkata taqwa itu terletak disini”. Dan beliau memberikan isyarat kearah
dadanya tiga kali (HR Muslim)





Disebutkan
pula dalam Al-Quran dalam surat Al-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan
darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
mendundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya
kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”





Merujuk
kepada dalil-dalil dari Al-Quran dan Al-Hadits kita bisa menemukan bahwa syarat
pokok diterimanya amalan seorang hamba selain harus mengikuti tuntunan
Rasulullah SAW adalah ikhlas.





Para
ulama telah memberikan kiat bagi seorang muslim untuk bisa meraih ikhlas. Di
antaranya adalah dengan memupus berbagai ambisi dan ketamakan terhadap dunia
dengan segala perhiasannya, serta mengusahakan agar qalbu senantiasa fokus
kepada Akhirat. Hal ini akan sangat membantu seorang untuk menggapai
keikhlasan. Betapa banyak orang yang bersusah payah untuk beramal dengan
melakukan pengorbanan yang tidak sedikit, dan menyangka bahwa ia telah
melakukannya dengan ikhlas, padahal ia telah tertipu. Hal itu karena ia tidak
memperhatikan perkara-perkara yang bisa merusak keikhlasan, kemudian
menjauhinya. Seperti yang dikisahkan dalam hadits tentang orang-orang yang
dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka walaupun dia seorang yang rajin membaca
Al-Quran/Qori, orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang hartanya
banyak/dermawan hanya karena mereka tidak ikhlas melakukan amalan-amalan
tersebut.





Ikhlas
adalah sesuatu yang mampu dan dapat kita raih, tinggal bagaimana kita berupaya
semaksimal mungkin mengelola hati, pikiran, aktifitas hanya dalam rangka
lillahi kalimatillah, karena jika beramal bukan karena Allah maka semuanya
seperti fatamorgana, naudzubillah summa naudzubillah.





Perjuangan
untuk mengikhlaskan niat adalah perkara yang berat. Hal itu tidak akan terwujud
kecuali dengan pertolongan Allah SWT. dan usaha yang maksimal dari setiap
muslim. Selamat berjuang untuk mewujudkan keikhlasan dan membersihkannya dari
segala hal yang bisa merusak atau melenyapkannya. Semoga kita senantiasa bisa
melakukan semua aktifitas kita dengan niat ikhlas hanya karena Allah semata.
Aamiin…





Semoga
bermanfaat saudaraku.







Wassalam…





Sumber: http://fkdkmksg.blogspot.com/2013/05/ikhlas-dan-urgensinya.html




a